
Pelatihan Kepemimpinan & Fasilitator
Tujuan Pelatihan Kepemimpinan MIM adalah untuk membekali calon pemimpin agar dapat memimpin dan memfasilitasi kelompok kecil pria MIM secara efektif. Pelatihan ini terdiri dari tiga modul inti:
Modul 1: Membangun Murid Melalui Hubungan
Modul ini membantu membentuk pola pikir seorang pemimpin kelompok kecil agar menjadi terarah, berorientasi pada hubungan, dan misionaris. Dalam kelompok kecil MIM, fokusnya bukan hanya pada menyelesaikan studi, tetapi juga pada menumbuhkan hati seorang murid—pertama-tama menjadi murid Kristus dan kemudian bertumbuh sebagai pembuat murid, dimulai dari rumah.
Dalam Yohanes 13:34-35, Yesus memberikan perintah baru kepada murid-murid-Nya: untuk saling mengasihi seperti Ia telah mengasihi mereka. Ia berkata bahwa dunia akan mengenal murid-murid-Nya melalui kasih mereka satu sama lain. Oleh karena itu, kasih adalah inti dari kemuridan sejati, dan melalui hubungan yang autentiklah murid-murid dipelihara dan dikuatkan.
Setiap orang percaya juga dipanggil untuk berpartisipasi dalam Amanat Agung — untuk menjadikan murid. Yesus menggambarkan para pengikut-Nya sebagai terang dunia dan garam bumi. Sebagai pemimpin, kita merangkul misi-Nya dengan mengasihi orang lain secara sengaja dan membantu orang-orang bertumbuh sebagai murid Kristus yang setia.




Modul 2: Pembelajaran Efektif Melalui Fasilitasi
In MIM small groups, leaders serve as facilitators rather than teachers. The role of a facilitator is to guide the discussion, create a safe and respectful environment, and encourage participation from every member. Instead of delivering lectures, facilitators help men reflect on the material, share honestly, and learn from one another's experiences.
Good facilitation allows men to process biblical truth together, apply it to their lives, and encourage one another in their spiritual journey.
Modul 3: Seni Bertanya
Pertanyaan yang efektif membantu pria merenungkan diri dan berpikir lebih dalam tentang topik yang sedang dibahas. Pendekatan yang bermanfaat adalah memandu diskusi melalui tiga jenis pertanyaan: Apa, Mengapa, dan Bagaimana.
Pertanyaan "apa" membantu pria memahami topik tersebut dan mengidentifikasi posisi mereka terkait hal itu.
Pertanyaan 'mengapa' mendorong refleksi yang lebih mendalam, memungkinkan isi dan Kitab Suci untuk memberikan kejelasan dan pemahaman yang lebih besar.
Pertanyaan "bagaimana" mengarahkan pria untuk mempertimbangkan penerapan praktis dan bagaimana mereka dapat menerapkan apa yang telah mereka pelajari dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui pertanyaan yang cermat, fasilitator membantu peserta mencapai pemahaman mereka sendiri, sehingga mendorong pembelajaran yang bermakna, keyakinan pribadi, dan pertumbuhan spiritual.

